Artikel singkat mengenai Sejarah
Dan Ikon Kabupaten Cirebon
Oleh : akhmad ismawan (akhmadismawan@gmail.com) 081283510282
http://jasa-desainrumahminimalis.com/Secara administratif
wilayah kabupaten cirebon adalah bagian dari wilayah provinsi Jawa
Barat,kabupaten ini terletak paling timur sehingga berbatasan wilayah langsung
dengan wilayah Jawa Tengah Yaitu berbatasan dengan kabupaten Brebes Jawa
Tengah.Kemudian di bagian Selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten
Kuningan,di Utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu,batas lainnya yaitu di
arah Barat Laut berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka.
https://warungdesainrumahminimalis.wordpress.comMendengar kata
Cirebon kita akan langsung tertuju pada ikon produk masyarakatnya yang terkenal
dengan mottonya :”Rame ing gawe sepi ing pamrih” atau banyak bekerja tanpa
mengharap imbalan yaitu batik corak Mega Mendungnya,tetapi bukan itu saja,masih
banyak hal yang mencirikan kabupaten Cirebon di antaranya adalah di kabupaten
inilah awal mula penyebaran islam di tanah jawa barat ,karena disinilah makam
Sunan Gunung Jati ,pangeran Syarif Hidayatullah berada dan disinilah Keraton
Kasepuhan didirikan. Kemudian dari segi kuliner banyak makanan has Cirebon
diantaranya manisan buah dan asinan has Cirebon,Empal Gentong,Nasi Jamblang,dan
Cirebon juga dikenal sebagai daerah lumbung padi di daerah pantura Jawa Barat.
https://id.wikipedia.org/wiki/MinimalismeDalam sejarahnya
terbentuknya wilayah Cirebon bersangkutan dengan kerajaan yang dipimpin Raja
Jaya Dewata atau lebih terkenalnya sebagai Raja Siliwangi raja kerajaan Pajajaran.Dari
istri Nyai Subang Larang Raja Siliwangi memilki 3 anak yaitu Pangeran Walang
Sungsang,Nyai Lara Santang,dan yang terahir Raja Sengara.
Putra pertama
Raja Siliwangi yaitu Pangeran Walang Sungsang kemudian menikah dengan Nyai
Endang Gulis putra pertapa Ki Gedheng Danuwarsih.Bersama adiknya Nyai Lara Santang
mereka kemudian singgah di beberapa petapaan pertama di petapaan Ciangkup desa
Panongan,kemudian petapaan Gunung Kumbang desa Tegal,dan terahir di petapaan Gunung
Amparan Jati dan dari sinilah mereka
bertemu syekh Datuk Kahfi guru agama islam yang luhur budi pekertinya berasal
dari Kerajan Pasai.Disini mereka ahirnya belajar agama islam kepada Syeh Nur Jati
,kemudian mereka menetap bersama paman dari istri pangeran Walang Sungsang yang
bernama Ki Gedheng Danusela.oleh Syeh Nur Jati, Pangeran Walang Sungsang
disuruh membuka hutan di tepi pantai tenggara Gunung Jati ,Maka berdirilah
dukuh Tegal Alang Alang yang diberi nama Desa Caruban yang dalam kosakata Bahasa Jawa berarti campuran ,karena lama
kelamaan akan disinggahi banyak orang dari berbagai suku bangsa untuk
berdagang,bertani ,dan mencari ikan dilaut (asal nama Kota Cirebon ).
Oleh warga Ki
Gedheng Danusela dinagkat sebagai kuwu Caruban yang pertama ,baru setelah
meninggal posisi ini ditempati pangeran Walang Sungsang .Oleh petunjuk Syeh Nur
Jati Pangeran Walang Suangsang dan Adiknya Nyai Lara Santang disuruh Berangkat
Haji ke Tanah Suci Mekah.Ahirnya Nyai Lara Santang kemudian menikah dengan
seorang Raja mesir yaitu Syarif Abullah
dan dikaruniai dua Putra Yaitu Syarif Hidayatullah (dikemudian hari dikenal
sebagai Sunan Gunung Jati) dan Syarif Nurullah.Sepulang Dari menunaikan Rukun
islam kelima pangeran Walang Sungsang mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi
nama Jelagrahan yang dikemudian hari akn menjadi Keraton Kasepuhan sekarang ini
sebagai kediaman Putri kinasih Nyai PakungWati .
Karena Kakek
Pangeran Walangsungsang meninggal dan Keratuannya tidak diteruskan maka harta
peninggalannya digunakan Untuk memperbesar Keraton Kasepuhan tadi dan untuk
membentuk prajurit .Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya dan adiknya
sendiri Raja Sengara untuk mengangkat Pangeran WalangSungsang sebagai
Tumenggung dengan gelar Sri Mangana.
Dilain tempat
keponakan Tumenggung WalangSungsang Syarif Hidayatullah pulang ke tanah Jawa
Setelah berguru agama dari Mekah,Baghdad,Campa,dan Samudra pasai .Awalnya tiba
di daerah Banten Kemudian beralih ke Jawa Timur kemudian mendapat kesempatan
untuk bermusyawarah dengan para wali yang kemudian menghasilkan lembaga dakwah
untuk menyebarkan islam ditanah Jawa yaitu di kenal sebagi Wali Songo,yang
dipimpin Sunan Ampel berpusat di Tuban.
Dari hasil
pertemuan itu ahirnya Syarif Hidayatullah meminta izin pamannya yaitu
Tumenggung Sri Mangana Untuk mengajarkan agama Islam di daerah Caruban dan
sekitar maka didirikanlah padepokan yang disebut Pekikiran yang terletak di
Gunung Sabung(Sekarang).
Sepeninggal
Sunan Ampel ahirnya para Wali memutuskan untuk mengangkat Pangran Syarif
Hidayatullah yang lebih kondang sebagai Sunan Gunung Jati sebagai pimpinan Wali
Songo ,ahirnya pusat kegiatan Wali Songo dipindahkan dari Tuban ke Gunung
Subang Caruban.Lalu kemudian Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyai Pakung wati
Putri Tumenggung Sri Mangana (WalangSungsang) dan diangkat sebaagai Sultan
Cirebon I dan menetap di Pakungwati atau Keraton Kasepuhan.
Karena
permintaan berkali-kali kepada Prabu Siliwangi agar memeluk Islam tidak
dipenuhi ahirnya Sunan Gunung Jati mendeklarasikan Cirebon lepas dari Kerajaan
Pajajaran dan menjadi Negara meredeka.Perristiwa pendeklarasian ini dicatat
dalam sejarah dengan penanggalan Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra
Patangatus Papat Ikang Sakakala ,bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijriah atau 2
April 1482 Masehi yang diperingati sebagai hari jadi Kota Cirebon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar