IKLAN ADSENSE

Rabu, 03 Februari 2016

Artikel singkat mengenai Sejarah Dan Ikon Kabupaten Cirebon

Artikel singkat mengenai Sejarah Dan Ikon Kabupaten Cirebon
Oleh : akhmad ismawan (akhmadismawan@gmail.com) 081283510282


http://jasa-desainrumahminimalis.com/Secara administratif wilayah kabupaten cirebon adalah bagian dari wilayah provinsi Jawa Barat,kabupaten ini terletak paling timur sehingga berbatasan wilayah langsung dengan wilayah Jawa Tengah Yaitu berbatasan dengan kabupaten Brebes Jawa Tengah.Kemudian di bagian Selatan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kuningan,di Utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu,batas lainnya yaitu di arah Barat Laut berbatasan dengan wilayah Kabupaten Majalengka.
https://warungdesainrumahminimalis.wordpress.comMendengar kata Cirebon kita akan langsung tertuju pada ikon produk masyarakatnya yang terkenal dengan mottonya :”Rame ing gawe sepi ing pamrih” atau banyak bekerja tanpa mengharap imbalan yaitu batik corak Mega Mendungnya,tetapi bukan itu saja,masih banyak hal yang mencirikan kabupaten Cirebon di antaranya adalah di kabupaten inilah awal mula penyebaran islam di tanah jawa barat ,karena disinilah makam Sunan Gunung Jati ,pangeran Syarif Hidayatullah berada dan disinilah Keraton Kasepuhan didirikan. Kemudian dari segi kuliner banyak makanan has Cirebon diantaranya manisan buah dan asinan has Cirebon,Empal Gentong,Nasi Jamblang,dan Cirebon juga dikenal sebagai daerah lumbung padi di daerah pantura Jawa Barat.
https://id.wikipedia.org/wiki/MinimalismeDalam sejarahnya terbentuknya wilayah Cirebon bersangkutan dengan kerajaan yang dipimpin Raja Jaya Dewata atau lebih terkenalnya sebagai Raja Siliwangi raja kerajaan Pajajaran.Dari istri Nyai Subang Larang Raja Siliwangi memilki 3 anak yaitu Pangeran Walang Sungsang,Nyai Lara Santang,dan yang terahir Raja Sengara.
Putra pertama Raja Siliwangi yaitu Pangeran Walang Sungsang kemudian menikah dengan Nyai Endang Gulis putra pertapa Ki Gedheng Danuwarsih.Bersama adiknya Nyai Lara Santang mereka kemudian singgah di beberapa petapaan pertama di petapaan Ciangkup desa Panongan,kemudian petapaan Gunung Kumbang desa Tegal,dan terahir di petapaan Gunung Amparan Jati  dan dari sinilah mereka bertemu syekh Datuk Kahfi guru agama islam yang luhur budi pekertinya berasal dari Kerajan Pasai.Disini mereka ahirnya belajar agama islam kepada Syeh Nur Jati ,kemudian mereka menetap bersama paman dari istri pangeran Walang Sungsang yang bernama Ki Gedheng Danusela.oleh Syeh Nur Jati, Pangeran Walang Sungsang disuruh membuka hutan di tepi pantai tenggara Gunung Jati ,Maka berdirilah dukuh Tegal Alang Alang yang diberi nama Desa Caruban yang dalam kosakata  Bahasa Jawa berarti campuran ,karena lama kelamaan akan disinggahi banyak orang dari berbagai suku bangsa untuk berdagang,bertani ,dan mencari ikan dilaut (asal nama Kota Cirebon ).
Oleh warga Ki Gedheng Danusela dinagkat sebagai kuwu Caruban yang pertama ,baru setelah meninggal posisi ini ditempati pangeran Walang Sungsang .Oleh petunjuk Syeh Nur Jati Pangeran Walang Suangsang dan Adiknya Nyai Lara Santang disuruh Berangkat Haji ke Tanah Suci Mekah.Ahirnya Nyai Lara Santang kemudian menikah dengan seorang Raja mesir  yaitu Syarif Abullah dan dikaruniai dua Putra Yaitu Syarif Hidayatullah (dikemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati) dan Syarif Nurullah.Sepulang Dari menunaikan Rukun islam kelima pangeran Walang Sungsang mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan yang dikemudian hari akn menjadi Keraton Kasepuhan sekarang ini sebagai kediaman Putri kinasih Nyai PakungWati .
Karena Kakek Pangeran Walangsungsang meninggal dan Keratuannya tidak diteruskan maka harta peninggalannya digunakan Untuk memperbesar Keraton Kasepuhan tadi dan untuk membentuk prajurit .Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya dan adiknya sendiri Raja Sengara untuk mengangkat Pangeran WalangSungsang sebagai Tumenggung dengan gelar Sri Mangana.
Dilain tempat keponakan Tumenggung WalangSungsang Syarif Hidayatullah pulang ke tanah Jawa Setelah berguru agama dari Mekah,Baghdad,Campa,dan Samudra pasai .Awalnya tiba di daerah Banten Kemudian beralih ke Jawa Timur kemudian mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang kemudian menghasilkan lembaga dakwah untuk menyebarkan islam ditanah Jawa yaitu di kenal sebagi Wali Songo,yang dipimpin Sunan Ampel berpusat di Tuban.
Dari hasil pertemuan itu ahirnya Syarif Hidayatullah meminta izin pamannya yaitu Tumenggung Sri Mangana Untuk mengajarkan agama Islam di daerah Caruban dan sekitar maka didirikanlah padepokan yang disebut Pekikiran yang terletak di Gunung Sabung(Sekarang).
Sepeninggal Sunan Ampel ahirnya para Wali memutuskan untuk mengangkat Pangran Syarif Hidayatullah yang lebih kondang sebagai Sunan Gunung Jati sebagai pimpinan Wali Songo ,ahirnya pusat kegiatan Wali Songo dipindahkan dari Tuban ke Gunung Subang Caruban.Lalu kemudian Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyai Pakung wati Putri Tumenggung Sri Mangana (WalangSungsang) dan diangkat sebaagai Sultan Cirebon I dan menetap di Pakungwati atau Keraton Kasepuhan.
Karena permintaan berkali-kali kepada Prabu Siliwangi agar memeluk Islam tidak dipenuhi ahirnya Sunan Gunung Jati mendeklarasikan Cirebon lepas dari Kerajaan Pajajaran dan menjadi Negara meredeka.Perristiwa pendeklarasian ini dicatat dalam sejarah dengan penanggalan Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala ,bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijriah atau 2 April 1482 Masehi yang diperingati sebagai hari jadi Kota Cirebon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar