10 Cara Mengendalikan Hawa Nafsu
jasa desain rumah minimalis
Bagi seseorang muslim yang menyadari hakikat kehidupannya, akan
senantiasa menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang menjerumuskan. Nafsu
adalah kecenderungan tabiat yang dirasa cocok. Kecenderungan ini
merupakan suatu bentuk ciptaan Allah yang ada dalam diri manusia,
sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya. Karenanyalah manusia memiliki
keinginan untuk makan, minum, dan menikah.
jasa desain rumah minimalis Nafsu dapat mendorong kepada sesuatu yang dikehendakinya. Ia akan
berada pada jalur yang benar manakala dikendalikan . Namun sebaliknya,
ia akan menghancurkan manusia jika nafsu yang mengendalikannya. Celaan
terhadap nafsu dating ketika berlebih-lebihan dalam dua sikap ini, yakni
yang melebihi sikap mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot. Orang
yang menuruti nafsu, syahwat dan rasa benci biasanya tidak konsisten
pada batasa yang bermanfaat baginy, jarang ada orang yang bisa bersikap
adil dengannya.
jasa desain rumha minimalis Allah tidak pernah menyebutkan
nafsu di dalam kitabNya melaikan
mencelanya. Begitupula tidak ada
sebutan nafsu dalam sunnah
melainkan dalam keadaan tercela,
kecuali yang memang ada pembatasan, seperti sabda Rasulullah
saw:
“Laa
yu’minu ahadakum hatta yakuuna hawaahu taba’an lima ji’tu bihi.”
(Tidaklah seseorang diantara kalian beriman sehingga nafsunya mengikuti
apa yang kubawa.)
Orang yang sudah dewasa akan diuji dengan hawa
nafsu. Setiap saat akan muncul kondisi yang menciptakan dua hakim pada
dirinya, yaitu hakim akal dan hakim agama. Dia diperintahkan agar
senantiasa melaporkan kasus-kasus nafsu kepada dua hakim ini dan patiuh
terhadap keputusannya. Dia harus berusaha melatih diri menyingkirkan
hawa nafsu yang tidak baik akibatnya, agar dikemudian hari tidak
mendapat kesengsaraan.
Jika kita memperhatikan tujuh golongan orang-orang yang mendapatkan perlindungan arsy Allah
pada
hari yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, maka kita
mendapatkan bahwa itu adalah hadiah karena menentang hawa nafsunya.
Pemimpin yang memegang tampuk kekuasaan tidak mungkin bias berbuat adil
kecuali dengan menentang nafsunya.
Pemuda yang mementingkan ibadah
kepada Allah semasa mudanya tidak akan mampu andaikan ia tidak
menentang nafsunya. Orang yang hatinya bergantung pada masjid- masjid,
bisa seperti itu karena dia menentang nafsu yang hendak menyeretnya
kepada berbagai macam kenikmatan. Orang yang mengeluarkan shodaqohnya,
andaikan ia tidak menentang nafsunya tentu tidak akan mampu berbuat
seperti itu.
Orang yang diajak wanita yang cantik dan terpandang,
lalu dia takut kepada Allah dan menentang nafsunya dan orang yang
mengingat Allah dalam keadaan sendirian, hingga kedua matanya meneteskan
airmata mampu berbuat seperti itu kecuali dia menentang hawa nafsunya.
Mereka tidak mengenal panas, siksaan dan kesulitan pada hari kiamat.
Untuk
selamat dari jeratan hawa nafsu, seorang hamba harus dengan sepenuh
hati bersungguh-sungguh melawan hasrat buruknya. Dengan taufik Allah, ia
akan selamat darinya seraya mencermati langkah-langkah pengendalian
berikut :
1. Menyadari bahwa nafsu adalah dinding pagar yang mengitari jahannam.
Barang siapa yang terseeret ke dalam nafsu, berarti dia terseret ke dalam neraka.
Sabda nabi,
“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai dan neraka itu dikelilingi dengan berbagai syahwat.”
Orang
yang mengikuti nafsu dikhawatirkan akan lepas dari iman, sementara dia
tidak menyadarinya. Mengikuti nafsu bias menutup pintu taufik bagi
manusia dan membuka pintu penyesalan.
Fudhail bin ‘Iyadh berkatam
“Barangsiapa yang mengikuti nafsu dan menuruti syahwatnya maka
terputuslah tali taufik dari dirinya.”
2. Memanjakan nafsu berarti merusak akal dan fikirannya dan itu berarti mengkhianati Allah dalam hal penggunaana akal.
Mengikuti nafsu membuat hamba tidak bias bangkit untuk mencapai syurga bersama-sama dengan orang yang berhasil mendapatkannya.
Muhammad
bin Abdul Warad berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai satu hari, siapa
yang tunduk kepada nafsunya tidak akan bisa selamat dari siksaan-Nya.
Di antara orang-orang yang jatuh dan tidak bisa bangkit pada hari kiamat
ialah orang yang tunduk kepada nafsunya.”
3. Menyadari bahwa dengan menentang nafsu akan menghasilkan kekuatan tubuh, hati dan lidah manusia.
Orang
salaf berkata, “Orangyang mampu mengalahkan hawa nafsunya lebih kuat
daripada orang yang mampu menaklukkan sebuah kota sendirian.” Orang yang
paling ksatria adalah yang paling keras menentang hawa nafsunya.
Muawiyah
berkata, “Sifat ksatria ialah yang meninggalkan syahwat dan menentang
hawa nafsu. Mengikuti hawa nafsu berarti mengurangi sifat ksatria.”
Memerangi nafsu lebih hebat dan lebih berat daripada memerangi
orang-orang kafir.
Menentang nafsu bisa menyelamatkan penyakit
hati dan badan sedangkan mengikutinya akan mendatangkan penyakit hati
dan badan. Semua penyakit hati berasal dari mengikuti nafsu. Jika kita
meneliti berbagai penyakit badan maka sebagian beasr berasal dari
memperturutkan hawa nafsu.
4. Menyadari bahwa tidak ada satupun
hari yang berlalu melainkan nafsu dan akan saling bergelut di dalam diri
orang yang besangkutan.
Mana yang dapat mengalahkan rivalnya,
maka dia akan mengusirnya dan menguasainya. Abu Darda r.a. berkata,
“Jika pada diri seseorang berkumpul nafsu dan amal, lalu amalnya
mengikuti nafsunya, maka hari yang dilaluinya adalah hari yang buruk.
Jika nafsunya mengikuti amalnya, maka harinya adalah hari yang baik.”
5.
Menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi
untuk sesuatu urusan yang besar yang tidak bias dicapai kecuali dengan
menentangnya.
Tidak boleh baginya memilih bahwa hewan lebih baik
daripada dirinya. Dengan tabiatnya saja hewan bias membedakan mana yang
membahayakan dan mana yang menyelamatkan, lalu ia memilih yang
bermanfaat baginya dan meninggalkan yang berbahaya. Manusia diberi akal
dalam masalah ini. Jika dia tidak bias membedakan mana yang dapat
membahayakan dan mana
yang bermanfaat baginya, atau mengetahui tapi justru memlih yang berbahaya, berarti keadaan hewan lebih baik dari keadaannya.
Sesungguhnya
Allah menjadikan kesalahan dan mengikuti nafsu sebagai dua hal yang
berdampingan dan menjadikan kebenaran dan menentang nafsu sebagai dua
hal yang berdampingan sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf, “jika
ada masalah yang rumit engkau pecahkan, engkau tidak tahu mana yang
benar, maka tinggalkanlah yang lebih dekat kepada nafsumu, karena
sesuatu yang dekat dengan kesalahan ialah yang mengikuti hawa nafsu.”
6.
Memiliki hasrat yang kuat untuk melawan hawa nafsunya sehingga timbul
kecemburuan yang amat sangat terhadap dirinya sendiri jika melakukan
kemaksiatan.
Membalutnya dengan kesabaran dalam menghadapi
kepahitan yang akan dihadapi ketika melawan hawa nafsunya sendiri.
Membekalinya dengan kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk mereguk
kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran
sekalipun hanya sesaat dan sebaik- baik hidup adalah jika seseorang
mengetahui hidup itu dengan kesabarannya.
7. Melibatkan hati dalam
mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa
banyak nafsu itu meloloskan ketaatan dan berapa banyak nafsu itu
mendatangkan kehinaan.
Berapa banyak satu suapan yang menghalangi
beberapa suapan. Berapa banyak sedikit kenikmatan yang menghilangkan
beberapa kenikmatan. Berapa banyak sedikit syahwat yang menghancurkan
kehormatan, menundukkan kepala, menciptakan kenangan yang buruk,
mengakibatkan celaan dan aib yang tidak bisa dicuci dengan air sementara
mata orang yang menuruti hawa nafsu adalah mata orang yang buta.
8.
Memikirkan apa yang dituntut oleh jiwanya, lalu berkata kepada akal dan
agamanya, yang nantinya akan mengabarkan bahwa apa yang dituntut itu
tidak ada artinya apa-apa.
Abdullan bin Mas’ud berkata, “Jika
salah seorang diantara kalian tertarik kepada seorang wanita, maka
hendaklah dia mengingat-ingat keburukannya.” Mempertimbangkan kelanjutan
yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian
hari dan
sebaliknya mempertimbangkan penderitaan yang semakin menjadi-jadi
sebagai akibat menuruti kenikmatan hawa nafsu yang semu.
9.
Menghinakan diri sendiri ketika tunduk kepada hawa nafsu, sebab tidaklah
seseorang menuruti hawa nafsunya melainkan pasti akan mendapatkan
kehinaan pada dirinya.
Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan
orang-orang yang mengikuti nafsunya, padahal dilihat dari batinnya,
mereka adalah orang- orang yang paling hina dina. Orang seperti itu
memadukan antara kesombongan dengan kehinaan.
10. Kebanggan dapat menundukkan dan menaklukkan musuhnya.
Allah suka jika hamba-Nya berani menghadapi musuhnya sebagaimana firman-nya,
“Dan
mereka tidak menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-
orang kafir dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh melainkan
dituliskan bagi mereka dengan demikian itu sebagai amal sholeh.”
(At-Taubah: 120).
Di antara tanda cinta yang tulus ialah melibas
musuh kekasihnya dan mengalahkannya. Jika kita mencintai Allah maka
kewajiban kita untuk mengalahkan musuh. Allah.
Maroji’: Rauah Al-Muhibbin wa
Nuhzhah Al-Musytaqin, Ibnul Qoyyim
Al-Jauziyah, Darul Falah 1419 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar